Nazran’s Blog


Abortus
April 22, 2009, 6:30 am
Filed under: Keperawatan Maternitas | Tags:

DEFINISI
Menurut WHO
Aborsi adalah pengeluaran janin berbobot 500 gram atau usia kehamilan antara 20-22 minggu.

ETIOLOGI
a. Faktor Ibu
Usia.
Ibu dengan usia 40 tahun, insiden aborsi mencapai 5-10%.
Penyakit.
Mikroorganisme dan toxinnya dapat melewati sawar plasenta sehingga menuju peredaran darah fetus, missal : CMV, Rubeola, Toxoplasma, dll. Penyakit lain yang dapat menyebabkab aborsi adalah asfiksia berat, anemia gravis, malnutrisi,dll.
Bahan Toxin.
Wanita perokok yang merokok 20 batang rokok perhari atau minum alcohol lebih dari 7 gelas perminggu dapat meningkatkan insiden aborsi 4 kali lipat.
Stress.
Stress dapat menyebabkan vasokonstriksi PD ke fetus, jika hal ini terjadi terus-menerus maka akan menyebabkan penurunan perfusi ke janin sehingga janin akan mengalami hipoksia berat dan meninggal.
Kelainan system reproduksi.
Anomali congenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis), kelainan letak uterus, Uterus terlalu teregang (kehamilan ganda, mola), tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi ovum yang sudah dibuahi karena berkurangnya hormone estrogen & progesterone, endometritis dan mioma submukosa.
Faktor imunologi / anti rhesus.
Jika di dalam PD ibu banyak terdapat antirhesus, maka antirhesus ini akan menghancurkan eritrosit janin ( untuk janin yang memiliki antirhesus yang tidak sama

dengan ibu), akibatnya janin akan mengalami anemia berat dan akhirnya meninggal.
Hal yang dapat mengakibatkan kontraksi uterus.
Misal : koitus, manipulasi putting yang berlebihan, prostaglandin pada sperma dan obat uterotonika.
b. Faktor ayah
Usia.
Semakin tua seseorang, maka mutu sperma akan semakin menurun.
Penyakit.
Penyakit yang diderita oleh ayah dapat mengganggu system reproduksi pada ayah (TBC, dekompensasi kordis, sifilis)
Bahan toxin.
Rokok yang mengandung nikotin, alcohol, Pb dapat mengganggu system reproduksi ayah.
Sinar radioaktif
Rontgen dapat menyebabkan kemandulan dan gangguan pada system reproduksi pada laki-laki dan perempuan sehingga dapat menyebabkan gangguan bahan konsepsi.
c. Faktor janin
Kelainan genetic berupa abnormalitas kromosom seperti trisomi autosom, triploid dan tetraploid.

KLASIFIKASI
1. Aborsi spontan
Adalah aborsi yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis ataupun medisinalis, tetapi karena faktor alamiah.
a. Aborsi lengkap
Adalah aborsi yang mengeluarkan seluruh bahan konsepsi (fetus dan desidua basalis) sehingga rongga rahim kosong. Setelah pengeluaran hasil konsepsi, servik menutup, uterus mengecil, tidak ada lagi gejala kehamilan dan uji kehamilan negative.
Terapi : hanya dengan uterotonika
b. Aborsi tidak lengkap
Adalah aborsi yang hanya mengeluarkan sebagian hasil konsepsi (plasenta atau desidua).

Gejala :
Amenore
Sakit perut, mulas
Perdarahan bisa sedikit atau banyak, biasanya berupa bekuan darah
Keluar sebagian fetus atau plasenta
Pada pemeriksaan VT, servik masih terbuka pada aborsi yang baru saja terjadi dan juga teraba sisa-sisa jaringan pada kanalis servikalis atau pada cavum uteri.
Ukuran uterus lebih kecil daripada ukuran sebenarnya.
Terapi :
Jika terdapat tanda-tanda syok, maka atasi dengan pemenuhan cairan
Kuretase
Antibiotik
Uterotonika
c. Aborsi insipiens / tidak terelakkan / aborsi yang sedang berlangsung
Adalah aborsi yang sedang berlangsung dengan ostium yang sudah terbuka dan ketuban yang teraba. Kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi. Terapinya sama dengan aborsi tidak lengkap.
d. Aborsi iminens / mengancam / membakat
Adalah kehamilan yang disertai dengan perdarahan pervaginam. Perdarahan ini terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu.
e. Missed aborsi
Adalah keadaan dimana janin sudah mati tapi uterus ibu mempertahankan selama 2 bulan atau lebih.
Beberapa kemungkinan yang dapat terjadi adalah : fetus yang mati tersebut bisa keluar dengan sendirinya dalam jangka waktu 2-3 bulan, diresorbsi oleh tubuh ibu sehingga fetus menghilang, mongering dan menipis (papyraceus), menjadi mola karnosa dimana fetus yang sudah mati 1 minggu akan mengalami degenerasi dan air ketubannya diresorbsi.
Gejala :
Amenorea
Perdarahan sedikit yang berulang
Fundus bertambah rendah
Tanda-tanda kehamilan yang mulai menghilang pada 2-3 minggu setelah fetus mati.
Servik masih menutup dan terdapat sedikit darah (VT)
Klien mengeluh perutnya kosong dan terasa dingin
Terapi :
Obat yang merangsang his sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil lakukan dilatasi dan kuretase / histerektomi anterior. Setelah itu ibu diberi antibiotic dan tonika.
Komplikasi :
Fetus yang terlalu lengket sulit untuk dilakukan kuretase
Hipo / Afibrinogenemia
f. Aborsi habitualis / keguguran yang berulang
Adalah keguguran yang berulang minimal 3 kali. Menurut HERTIG optimisme ibu yang pernah mengalami keguguran 2 kali untuk hamil lagi adalah 63 % sedangkan optimisme ibu yang pernah mengalami keguguran 3 kali adalah 16 %.
Etiologi :
Kelainan ovum / sperma dimana kalau terjadi fertilisasi hasilnya adalah zigot yang patologis.
Kesalahan pada ibu. Misal : disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum, kesalahan plasenta yang tidak dapat memproduksi progesterone setelah korpus luteum atrofis. Ini dapat dibuktikan dengan memeriksa pregnandiol dalam urin ibu, selain itu juga tergantung pada status nutrisi ibu (malnutrisi), kelainan anatomis rahim, febris undulans, hipertensi karena kelainan PD, gangguan psikis, inkompetensi servik, antirhesus ibu.
g. Aborsi infeksiosa / aborsi septic
Adalah aborsi yang disertai dengan infeksi genetalia / disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman / toxinnya ke peredaran darah atau peritoneum. Hal ini sering dijumpai pada aborsi tidak lengkap dan aborsi kriminalis karena tidak memperhatikan prinsip asepsis dan antisepsis. Bahkan pada keadaan tertentu dapat terjadi perforasi rahim.
Gejala :
Amenorea
Perdarahan dan pengeluaran jaringan
Pada VT : kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan
Terdapat tanda-tanda infeksi alat genital, seperti : demam, nadi cepat, perdarahan yang berbau, uterus besar dan lembek, nyeri tekan dan leukositosis.
Pada aborsi sepsis terdapat tanda : panas tinggi, menggigil, nadi kecil dan cepat, tekanan darah turun sampai dengan syok.
Terapi :
Transfusi darah dan infuse untuk kasus perdarahan yang banyak
Antibiotik yang tepat dan cukup
Dilatasi dan kuretase dilakukan 24-48 jam setelah pemberian antibiotik
2. Aborsi provokatus
Adalah aborsi yang disengaja baik dengan menggunakan obat maupun alat. Ada 2 macam aborsi provokatus :
a. Aborsi medisinalis / aborsi terapeutik
Adalah aborsi berdasarkan indikasi medis, missal jika kehamilan diteruskan dapat membahayakan nyawa ibu.
b. Aborsi kriminalis
Adalah aborsi yang terjadi karena hal-hal yang tidak legal / tidak berdasarkan indikasi medis.

KOMPLIKASI
Perdarahan
Perforasi : sering terjadi pada waktu dilatasi dan kuretase (D&C) yang dilakukan oleh tenaga yang tidak ahli.

ASUHAN KEPERAWATAN

III. 1.Pengkajian

3.1.1. Pengumpulan data dasar pengkajian klien

õ Temuan-temuan umum

Sirkulasi :

Hipertensi / hipotensi mungkin ada

Pucat

Pusing

Intregitas ego :

Ketakutan, cemas, gelisah

Makanan / cairan :

Mual, muntah

Keamanan :

Penyakit inflamasi pelvis

Kejadian gonoroe berulang

Sexualitas :

Multipara, ibu usia lanjut

Section caesaria

Aborsi berulang pada rimester pertama atau kedua

Jaringan parut servikal karena laserasi,konisasi servikal, aborsi elektif, atau dilatasi dan kuretase

Kondisi khusus dengan tanda dan gejala

õ Aborsi : dapat terjadi kapan saja, sebelum gestasi 20 mgg

3.1.2. Pengumpulan data diagnosa tambahan

õ Hitumg darah lengkap (HDL)

Sel Darah Putih (SDP) meningkat

Hemoglobin(Hb) menurun

Hematokrit(Ht) menurun

õ Titer HCG

Meningkat pada mola hidatidosa

Menurun pada kehamilan ektopik

õ Masa tromboplastin teraktivasi parsial (APTT), masa tromboplastin parsial(PTT), masa protrombin(PT), dan jumlah trombosit: dapat menunjukkan koagulasi memanjang.

õ Kadar fibrinogen; menurun

õ Kadar estrogen dan progesteron : menurun

õ USG :

Memastikan adanya janin

Menentukan usia janin

õ Amniosentesis:

Menentukan rasio lesitin terhadap spingomielin pada kasus plasenta previa.

III.2. Diagnosa Keperawatan.

  1. Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan kehilangan cairan vascular berlebih
  2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia
  3. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus, trauma jaringan
  4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan sesak napas
  5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin
  6. Cemas berhubungan dengan ancaman kematian
  7. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurangnya sumber informasi

III.3. Intervensi Keperawatan

Tujuan : (diagnosa 1)

Mendemonstrasikan kestabilan / perbaikan keseimbangan cairan yang dibuktikan oleh tanda-tanda vital stabil

Pengisian kapiler cepat

Sensorium tepat dan haluran serta berat jenis urin adekuat secara individual.

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri

Evaluasi, laporkan dan catat jumlah serta sifat kehilangan darah. Lakukan penghitungan pembalut, timbang pembalut / pengalas

Perkirakan kehilangan darah membantu membedakan diagnosa. Setiap gram peningkatan berat pembalut sama dengan kehilangan kira-kira 1ml darah.

Lakukan tirah baring. Instruksi klien untuk menghindari valsavah manuver dan koitus.

Pendarahan dapat berhenti dengan reduksi aktivitas. Peningkatan tekanan abdomen atau orgasme (yang meningkatkan aktivitas uterus) dapat merangsang pendarahan.

Posisi klien dengan tepat, terlentang dengan panggul ditinggikan atau posisi semi fowler pada plasenta previa. Hindari posisi tenderlenberg.

Menjamin keadekuatan darah yang tersedia untuk otak, peninggian panggul menghindari kompresi vena kava. Posisi semi fowler’s memungkinkan janin bertindak sebagai tampon. Posisi trenderlenberg dapat menurunkan pernapasan pada ibu.

Cacat tanda-tanda vital, pengisian kapiler pada dasar kuku, warna membran mukosa / kulit dan suhu. Ukur tekanan vena sentral, bila ada.

Membantu menentukan beratnya kehilangan darah, meskipun sianosis dan perubahan pada tekanan darah (TD) dan nadi adalah tanda-tanda lanjut dari kehilangan sirkulasi dan atau terjadi syok. Juga pantau keadekuatan penggantian cairan.

Pantau aktivitas uterus, status janin dan adanya nyeri tekan abdomen.

Membantu menentukan sifat hemoragi dan kemungkinan hasil dari peristiwa hemoragi. Nyeri tekan biasanya ada pada kehamilan ektopik yang ruptur / abruptio plasenta. Catat pilihan religius : dapat menolak penggunaan produk darah dan menetapkan kebutuhan terapi alternatif. Klien mungkin menginginkan pembaptisan hasil konsepsi pada kejadian aborsi

Hindari pemeriksaan rektal / vaginal

Dapat meningkatkan hemoragi, khususnya plasenta previa marginal / total

Pantau masukan / haluran. Dapatkan sampel urin setiap jam : ukur berat jenis

Menentukan luasnya kehilangan cairan menunjukkan perfusi ginjal

Auskultasi bunyi nafas

Bunyi nafas adventisius menunjukkan ketidaktepatan / kelebihan penggantian (overhidrasi)

Simpan jaringan / hasil konsepsi yang keluar

Dokter perlu mengevaluasi kemungkinan hipertensi jaringan / membran : pemeriksaan histologi yang mungkin perlu

Kolaborasi

Dapatkan / tinjau ulang pemeriksaan darah cepat : HDL, jenis dan pencocokan silang, titer Rh, kadar fibrinogen, hitung trombosit, APTT, PT dan HcG

Menentukan jumlah darah yang hilang dan dapat memberikan informasi mengenai penyebab. Ht harus dipertahankan diatas 30% untuk mendukung transport oksigen dan nutrien.

Pasang kateter indwelling

Haluran kurang dari 30 ml/jam menandakan penurunan perfusi ginjal dan kemungkinan terjadinya nekrosis tubular. Haluran yang tepat ditentukan oleh derajat defisit individu dan kecepatan penggantian

Berikan larutan IV, ekspander plasma, darah lengkap / sel-sel kemasan sesuai dengan indikasi

Meningkatkan volume darah sirkulasi dan mengatasi gejala-gejala syok

Siapkan untuk laparotomi pada kasus kehamilan ektopik yang ruptur

Pengangkatan tuba falopi yang ruptur dan kemungkinan ovarium, menghentikan hemoragi (catatan : bila tuba tidak ruptur, tindakan dengan obat-obatan untuk melisis hasil konsepsi dapat melindungi tuba)

Siapkan untuk Dilatasi dan Kuretase pada kasus mola hidatosa / aborsi inkomplet (Rujuk pada MK : terminasi spontan)

Menghilangkan pembuluh korionik / produk konsepsi yang melekat pada endometrium

Siapkan untuk kelahiran SC bila ada diagnosa berikut : abrupsi plasenta berat bila janin hidup dan persalinan tidak terjadi, DIC, plasenta previa bila janin matur, kelahiran vagina yang tidak mungkin, perdarahan berlebihan / tidak teratasinya dengan tirah baring

Hemoragi berhenti bila plasenta diangkat dan sinus-sinus vena tertutup.

Tujuan : (diagnosa 2)

Mendemonstrasikan perfusi adekuat, dibuktikan oleh DJJ dan aktivitas serta tes nonstres reaktif

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri

Perhatikan status fisiologis ibu, status sirkulasi dan volume darah

Kejadian perdarahan potensial merusak hasil kehamilan, kemungkinan menyebabkan hipovolemi / hipoksia uteroplasenta

Auskultasi dan laporkan DJJ, catat bradikardi / takikardi. Catat perubahan pada aktivitas janin (hipoaktivitas /hiperaktivitas)

Mengkaji berlanjutnya hipoksia janin. Pada awalnya janin berespon pada penurunan kadar oksigen dengan takikardia dan peningkatan aktivitas. Bila tetap defisit, bradikardia dan penurunan aktivitas

Catat kehilangan darah ibu mungkin adanya kontraksi uterus

Bila kontraksi uterus disertai dilatasi servik, tirah baring dan medikasi mungkin tidak efektif dalam mempertahankan kehamilan. Kehilangan darah ibu secara berlebihan menurunkan perfusi plasenta

Catat Perkiraan Tanggal Kehilangan (PTK) dan tinggi fundus

PTK memberikan perkiraan untuk menentukan viabilitas janin

Anjurkan tirah baring pada posisi miring kiri

Menghilangkan tekanan pada vena cava inferior dan meningkatkan sirkulasi plasenta / janin dan pertukaran oksigen

Kolaborasi

Berikan suplemen oksigen pada klien

Meningkatkan ketersediaan oksigen untuk ambilan janin. Janin mempunyai beberapa kapasitas perlekatan untuk mengatasi hipoksia dimana (1) disosiasi Hb janin (melepaskan oksigen pada tingkat seluler) lebih cepat daripada Hb dewasa dan (2) jumlah erytrosit janin lebih besar daripada dewasa, sehingga kapasitas oksigen yang dibawa janin meningkat

Lakukan / ulang NST sesuai indikasi

Mengevaluasi secara elektronik respon DJJ terhadap gerakan janin, bermanfaat dalam menentukan kesejahteraan janin (tes reaktif) pada kasus hipoksia (nonreaktif)

Ganti kehilangan darah / cairan ibu

Mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat untuk transpor oksigen. Hemoragi maternal mempengaruhi transfer oksigen uteroplasenta secara negatif, menimbulkan kemungkinan kehilangan kehamilan / memburuknya status janin. Bila penyimpanan oksigen menetap , janin kehabisan tenaga untuk melakukan mekanisme koping, dan kemungkinan SSP rusak / janin meninggal

Bantu dengan USG dan Amniosentesis. Jelaskan prosedur

Menentukan maturitas janin dan usia gestasi. Membantu menentukan viabilitas dan perkiraan hasil secara realitas

Dapatkan spesimen vagina untuk tes Apt / menggunakan tes Klihauer-Betke untuk mengevaluasi serum ibu, darah vagina / produk lavase lambung

Membedakan darah ibu dari darah janin dalam cairan amnion bila perdarahan pervagina terjadi, memberikan perkiraan kasar dari jumlah darah janin yang hilang dan menunjukkan implikasi terhadap kapasitas pembawa oksigen, serta kebutuhan ibu terhadap injeksi RhIgG bila kelahiran terjadi. Tes Betke-Kleihauer lebih sensitif dan secara kuantitatif lebih akurat daripada tes Apt

Siapkan klien untuk intervensi bedah dengan tepat

Pembedahan perlu bila terjadi pelepasan plasenta yang berat / bila perdarahan berlebihan, terjadi penyimpanan oksigen janin dan kelahiran pervagian tidak mungkin, seperti pada kasus plasenta previa total dimana pembedahan mungkin diindikasikan untuk menyelamatkan hidup janin

Tujuan : (diagnosa 3)

Melaporkan nyeri atau ketidak nyamanan hilang atau tidak terkontrol, Mendemomstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi /aktivitas hiburan.

INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri

Tentukan sifat lokasi dan durasi nyeri. Kaji kontraksi uterus, hemoragi retroplasenta / nyeri tekan abdomen

Membantu dalam mendiagnosa dan memilih tindakan. Ketidaknyamanan dihubungkan dengan aborsi spontan dan mola hidatosa karena kontraksi uterus, yang mungkin diperberat oleh infus oksitoin. Ruptur kehamilan ektopik mengakibatkan nyeri berat karena hemoragi tersembunyi saat tuba falopi ruptur kedalam cavum abdomen. Abrupsi plasenta disertai dengan nyeri berat, khususnya bila terjadi hemoragi retroplasenta tersembunyi.

Kaji stres psikologis klien / pasangan dan respon emosional terhadap kejadian

Ansietas sebagai respon terhadap situasi darurat dapat memperberat derajat ketidaknyamanan karena sindrom ketegangan-takut-nyeri

Berikan lingkungan yang tenang dan aktivitas untuk mengalihkan rasa nyeri. Instruksikan klien menggunakan metode relaksasi (mis : nafas dalam, visualisasi, distraksi). Jelaskan prosedur

Dapat membantu dalam menurunkan tingkat ansietas dan karenanya mereduksi ketidaknyamanan

Kolaborasi

Berikan narkotik / sedatif, berikan obat –obatan preoperatif bila prosedur pembedahan diindikasikan

Meningkatkan kenyamanan, menurunkan resiko komplikasi pembedahan

Siapkan untuk prosedur bedah, bila diindikasikan

Tindakan terhadap penyimpangan dasar, menghilangkan nyeri

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Obstetri dan Ginekologi. 1984. Obstetri Patologi. Bandung : Elster Offset

Cunningham, F Gary. 1995. Obstetri Williams. Edisi : 18. Jakarta : EGC

Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal / Bayi : Pedoman Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan. Edisi 2. Jakarta : EGC


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: