Nazran’s Blog


AIDS
April 24, 2009, 2:17 am
Filed under: Keperawatan Medikal Bedah | Tags:

AIDS

Definisi
Aids adalah sindroma (kumpulan beberapa gejala) yang timbul akibat penurunan imunitas yang disertakan oleh infeksi virus HIV yang biasanya terjadi akibat infeksi sekunder. Penyakit ini merupakan penyakit kronis yang sulit untuk disembuhkan.

Etiologi
Etiologinya adalah infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). HIV merupakan kelompok retrovirus dimana virus ini menginfeksi sel T helper manusia sehingga menimbulkan terjadinya penurunan imunitas pada penderita AIDS.

Patofisiologi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab AIDS adalah HIV yang melekat dan memasuki limfosit T helper CD4+. Virus tersebut menginfeksi limfosit CD4+ dan sel-sel imunologi lain, dan orang itu mengalami destruksi CD4+ secara bertahap. Sel-sel ini yang memperkuat dan mengulang respon imunologi, diperlukan untuk mempertahankan kesehatan yang baik, dan bila sel-sel tersebut berkurang dan rusak, maka fungsi imunologi yang lain mulai terganggu.
HIV dapat pula menginfeksi makrofag, sel-sel yang dipakai virus untuk melewati sawar darah otak masuk ke dalam. Fungsi limfosit B juga terpengaruh dengan adanya peningkatan produksi immunoglobulin total sehubungan penurunan produk antibody spesifik. Dengan memburuknya system imun secara progresif, tubuh menjadi semakin rentan terhadap infeksi oportunistik dan juga berkurang kemampuannya dalam memperlambat replikasi HIV. Infeksi HIV dimanifestasikan sebagai penyakit imun system yang dapat bersifat dorman selama bertahun-tahun sambil menyebabkan imunodefisiensi secara bertahap. Kecepatan perkembangan dan manifestasi klinis bervariasi dari orang ke orang.

Siklus HIV dan Patogenesis
HIV mempunyai target sel utama yaitu limfosit T helper (T4, yang mempunyai resptor permukaan CD4) juga monosit dan makrofag. Protein selubung HIV gp 120 akan beersentuhan dan menempel pada CD4 sel T4 kemudian selubung HIV akan berfusi dengan membrane sel laluinti HIV (RNA) akan masuk ke sitoplasma sel. Dalam sitoplasma sel pejamu, RNA HIV akan diubah menjadi DNA provirus ini akan bergabung (berintegrasi) dengan DNA sel pejamu.
Pada beberapa sel infeksi akan memasuki masa laten. Pada sel lainnya terjadi replikasi virus dan virus baru ini akan menginvasi sel pejamu lain. Setelah beberapa tahun jumlah sel T CD4+ akan menurun sampai akhirnya timbul imunodefisiensi yang berat dan akan timbul gejala.

Cara Penularan
HIV terdapat dalam darah dan cairan tubuh seseorang yang tertular meskipun belum menunjukkan gejala penyakit.
HIV hanya dapat ditularkan bila terjadi kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita ke selaput mukosa atau masuk ke peredaran darah.
Dosis virus memegang peranan penting dan makin besar jumlah virus semakin besar kemungkinan infeksinya.
Jumlah virus yang banyak ada dalam darah, sperma, cairan vagina.
Dalam jumlah sedikit sekali atau tidak ada sama sekali pada saliva, air mata, urin, keringat dan air susu.
Penularan melalui hubungan seksual vagina oral maupun anal. Hubungan anal merupakan resiko terbesar. Resiko juga lebih besar pada yang reseptive daripada yang insertive.
Penularan melalui kontak langsung dengan darah atau jarum suntik : transfuse darah, pemakaian bersama jarum suntik banyak (pada pemakai narkoba) tak sengaja tertusuk jarum (pada petugas kesehatan).
Penularan dari ibu ke anak : bila terjadi di dalam rahim (transplacental), pada saat kelahiran dan pada saat menyusui.
HIV tidak ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Manifestasi Klinis
Gambaran klinis infeksi HIV dapat disebabkan HIVnya sendiri (sindrom retroviral akut, demensia HIV), infeksi oportunistik, atau kanker yang terkait AIDS. Perjalanan penyakit HIV dibagi dalam tahap-tahap berdasarkan keadaan klinis dan jumlah CD4
Infeksi retroviral akut
Frekwensi gejala infeksi retroviral akut sekitar 50-90%.. gambaran klinis menunjukkan demam pembesaran kelenjar, hepatosplenomegali, nyeri tenggorok, myalgia, rash seperti morbili, ulkus pada mukokutan, diare, leucopenia, dan limposit atipik. Sebagian pasien mengalami gangguan neurology seperti meningitis asepstik, sindrom Guillain Barre, atau psikosis akut. Sindrom ini biasanya sembuh sendiri tanpa pengobatan.
Masa asimtomatik
Pada masa ini pasien tidak menunjukan gejala, tetapi dapat terjadi limfadenopati umum. Penurunan jumlah CD4 terjadi bertahap, disebut juga masa jendela (window period)
Masa gejala dini
Pada masa ini jumlah CD4 berkisar antara 100-300. gejala yang timbul adalah akibat ingeksi pneumonia bacterial, kandidosis vagina, sariawan, herpes zoster, leukoplakia, ITP, dan tuberculosis paru. Masa ini dulu ini disebut AIDS Related Complex (ACR)
Masa gejala lanjut
Pada masa ini jumlah CD4 di bawah 200. penurunan daya tahan yang lebih lanjut ini menyebabkan resiko tinggi terjadinya infeksi oportunistik berat atau keganasan

Diagnosis :
Di Negara berkembang, seseorang diduga menderita AIDS jika : paling sedikit mempunyai 2 gejala mayor dan 1 gejala minor dan tidak ada sebab-sebab imunosupresi yang lain, misalnya kanker, malnutrisi berat, pemakaian kortikosteroid jangka lama, pemakaian obat imunosupresan
Gejala mayor :
Penurunan berat badan lebih dari 10 %
Diare kronik lebih dari 1 bulan
Demam lebih dari 1 bulan ( kontinyu atau intermiten)
Gejala minor :
Batuk lebih 1 bulan
Dermatitis pruritik umum
Herpes zoster berulang
Kandidiasis orofaring
Limfadenopati generalisata
Herpes simpleks diseminata, kronik progresif
Diperlukan tes antibody HIV dengan metode ELISA (2x) lalu dikonfirmasi dengan cara western blot.

Evaluasi diagnostic dan laboratorium
Pasien – pasien asimptomatik dan beresiko untuk terkena HIV:
Pemeriksaan darah lengkap
Liver transaminase (SGOT/SGPT)
Pemeriksaan terhadap sifilis (RPR atau VDRL) dikonfirmasi dengan FTA-ABS
ELISA HIV dan konfirmasi western blot
Pemeriksaan hepatitis
Pasien – pasien simptomatik dan positif HIV dan/atau dicurigai memiliki penyakit yang berhubungan dengan AIDS:
Pemeriksaan darah lengkap
Liver transaminase (SGOT/SGPT)
Pemeriksaan terhadap sifilis (RPR atau VDRL), dikonfirmasi dengan FTA-ABS
Serologi untuk CMV, virus – Epsteinn-bar, Virus herpes simpleks, toksoplasmosis, kriptokokus.
Pemeriksaan hepatitis
T4/T8subsets
Mikroglobulin beta-2
Titer imunodifusi terhadap jamur
Pemeriksaan foto thorak
Elektro ensefalogram

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Aktivitas/istirahat
Gejala: mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktivitas biasanya, progresi kelelahan/malaise, perubahan pola tidur.
Tanda: kelemahan otot, menurunnya masa otot, respon fisiologis terhadap aktivitas seperti perubahan dalam TD, frekwensi jantung, pernafasan.
Sirkulasi
Gejala: proses penyembuhan luka yang lambat
Tanda: takikardi, perubahan TD postural, menurunnya volume nadi perifer, pucat, sianosis
Integritas ego
Gejala: faktor stress yang berhubungan dengan kehilangan, mis dukungan keluarga, dengan orang lain.
Tanda: pengingkaran, cemas, depresi, takut, menarik diri, menangis, kontak mata yang kurang.
Eliminasi
Gejala: diare yang intermiten, terus menerus, sering dengan atau tanpa kram,nyeri panggul
Tanda: diare pekat yang sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rektal, perianal.
Makanan /cairan
Gejala: tidak nafsu, perubahan dalam kemampuan mengenali makan, mual muntah, disfagia, nyeri retrosternal saat menelan
Tanda: dapat menunjukkan adanya bisisng usus hiperaktif, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, lesi pada rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema.
Hygiene
Gejala: tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda: memperlihatkan penampilan yang tidak rapi
Neurosensori
Gejala: pusing/pening, sakit kepala, perubahan status mental, kerusakan sensasi, kelemahan otot, tremor, dan perubahan ketajaman penglihatan, kesemutan pada ekstremitas kaki.
Tanda: perubahan status mental dengan rentang antara kacau mental sampai demensia, lupa, konsentrasi buruk, tingkat kesadaran turun, ide paranoid, gaya berjalan ataksia, tremor pada motorik kasar/halus.
Nyeri/kenyamanan
Gejala: nyeri umum atau local, sakit, rasa terbakar pada kaki, sakit kepala, nyeri pada pleuritis.
Tanda: pembengkakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri tekan, penurunan rentang gerak
Pernafasan
Gejala: ISK serng menetap, nafas pendek yang progresif, batuk, sesak pada dada.
Tanda: takipnie, distress pernafasan, perubahan pada bunyi nafas/bunyi nafas adventisius, sputum kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum)

Keamanan
Gejala: riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka yang lambat penyembuhannya, riwayat penyakit defisiensi imun, riwayat/terulangnya PHS, demam berulang, suhu rendah, berkeringat malam.
Tanda: perubahan integritas kulit (terpotong, ruam),rectum, luka-luka perianal atau abses, timbulnya nodul-nodul, pelebaran kelenjar limfe, menurunnya kekuatan umum, tekanan otot
Seksualitas
Gejala: riwayat perilaku beresiko tinggi yakni mengadakan hubungan seksual dengan pasangan yang positif HIV, pasangan seksual multiple, menurunnya libido, penggunaan kondom yang tidak konsisten.
Tanda: kehamilan atau resiko terhadap hamil, manifestasi kulit (herpes, kutil), rabas
Interaksi sosial
Gejala: masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis , mis kehilangan kerabat, rasa takut mengungkapkan perasaan pada orang lain.
Tanda: perubahan pada interaksi keluarga, aktivitas yang tak terorganisasi.
Penyuluhan
Gejala: kegagalan untuk mengikuti perawatan, melanjutkan perilaku beresiko tinggi mis seksual dan penggunaan obat-obatan IV.
Rencana pemulangan: memerlukan bantuan keuangan, obat-obatan/tindakan, perawatan kulit dan luka, peralatan/ bahan,transportasi, belanja makanan dan persiapan, perawatan diri, prosedur keperawatan teknis, tugas perawatan/perawatan rumah, perawatan anak, perubahan fasilitas hidup.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: