Nazran’s Blog


Katarak
April 24, 2009, 3:39 am
Filed under: Keperawatan Medikal Bedah | Tags:

KATARAK

1.1 Definisi
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi juga dapat timbul pada saat kelahiran (katarak kongenital). Dapat juga berhubungan dengan trauma mata tajam maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid jang panjang, penyakit sistemis, seperti diabetes mellitus atau hipoparatiroidisme, pemajanan radiasi, pemajanan sinar matahari (sinar ultraviolet) yang lama, atau kelainan mata lain seperti uveitis anterior (Smeltzer and Bare, 2001)
Katarak merupakan penurunan progresif kejerniahan lensa, sehingga ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000)

1.2 Etiologi
Berikut ini beberapa penyebab terjadinya katarak:
Perubahan degeneratif berhubungan dengan aging
Pajanan terhadap sinar matahari selama hidup
Herediter
Trauma lensa
Infeksi mata
Pajanan radiasi atau obat tertentu
Janin yang terpajan virus rubella
Penderita diabetes, kemungkinan disebabkan oleh gangguan aliran darah ke mata dan perubahan penanganan dan metabolisme glukosa.

1.3 Manifestasi Klinis
Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subyektif. Biasanya, pasien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan karena kehilangan penglihatan tadi. Temuan obyektif biasanya meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop.
Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan kabur dan redup, menyilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari. Pupil, yang normalnya hitam, akan tampak kekuningan, abu-abu atau putih. Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun, dan ketika katarak sudah sangat memburuk, lensa koreksi yang lebih kuat pun tak akan mampu memperbaiki penglihatan.
Orang dengan katarak secara khas selalu mengembangkan strategi untuk meghindari silau yang menjengkelkan yang disebabkan oleh cahaya yang salah arah. Misalnya, ada yang menata ulang perabot rumahnya sehingga sinar tidak akan langsung menyinari mata mereka. Ada yang mengenakan topi berkelepak lebar atau kacamata hitam dan menurunkan pelindung cahaya saat mengendarai mobil pada siang hari.

1.4 Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer terdapat korteks, dan yang mengelilingi keduanya adlah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna, nampak seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya trasparasi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa, misalnya, dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemis, seperti diabetes, namun sebenarnya merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan “matang” ketika orang memasuki dekade ketujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-obatan, alkohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang lama.

1.5 Evaluasi Diagnostik
Selain uji mata yang biasa, keratometri, dan pemeriksaan lampu slit dan oftalmoskopis, maka A-scan ultrasound (echography) dan hitung sel endotel sangat berguna sebagai alat diagnostik, khususnya bila dipertimbangkan akan dilakukan penbedahan. Dengan hitung sel endotel 2000 sel/mm3 , pasien ini merupakan kandidat yang baik untuk dilakukan fakoemulsifikasi dan implantasi IOL.

1.6 Penatalaksanaan
Tidak ada terapi obat mutlak bagi katarak,dan belum dapat diambil dengan pembedahan laser. Penanganan konservatif dilakukan jika penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat dimana pasien dapat melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
Pembedahan paling sering dilakukan pada orang yang berusia 65 tahun atau lebih, atau bagi mereka yang memiliki koreksi tajam penglihatan terbaik 20/50 atau lebih buruk lagi,serta bila ketajaman pandang mempengaruhi keamanan dan kualitas hidup.
Teknik pembedahan yang tersedia untuk katarak ada dua macam, yaitu:
Ekstraksi katarak intrakapsular/ ICCE
ICCE adalah pengangkatan dari seluruh lensa sebagai satu kesatuan. Setelah zonula dipisahkan, lensa diangkat dengan menggunakan cryoprobe yang diletakkan secara langsung pada kapsula lentis. Bedah beku berdasarkan pada pembekuan untuk mengangkat suatu lesi atau keabnormalitas. Prinsip bedah beku adalah logam dingin akan melekat pada benda yang lembab. Ketika cryoprobe diletakkan pada kapsula lentis, kapsul akan melekat pada probe, kemudian lensa diangkat secara lembut. ICCE sekarang jarang dilakukan.
Ekstraksi katarak ekstrakapsular/ ECCE
Dalam ECCE digunakan mikroskop untuk melihat struktur mata selama pembedahan. Prosedur ini meliputi pengambilan kapsula anterior, menekan keluar nukleus lentis, dan menghisap sisa fragmen kortikal lunak. Dengan meninggalkan kapsula posterior dan zonula lentis tetap utuh, maka arsitektur bagian posterior mata dapat dipertahankan untuk menghindari komplikasi yang serius.
Fakoemulsifikasi merupakan penemuan baru dalam ECCE. Cara ini memungkinkan pengambilan lensa melalui insisi yang lebih kecildengan alat ultrasound frekuensi tinggi untuk memecah nukleus dan korteks lensa menjadi partikel kecil yang kemudian diaspirasi. Teknik ini memerlukan waktu penyembuhan yang lebih pendek dan insiden astigmatisme pascaoperasi.
Pada pengangkatan lensa, pasien memerlukan koreksi optikal karena lensa kristalina bertanggung jawab terhadap kekuatan fokus mata. Koreksi ini dapat dilakukan dengan dengan salah satu metode dari ketiga metode dibawah ini:
Kaca mata apakia, mampu memberikan pandangan mata yang baik. Namun pembesaran 25-30% menyebabkan penurunan dan distorsi pandangan perifer sehinga terjadi kesulitan dalam memahami relasi spasial, membuat benda-benda jauh nampak lebih dekat dari sebenarnya. Kaca mata ini juga menyebabkan aberasi sferis, mengubah garis lurus menjadi lengkung. Memerlukan waktu yang lama untuk adaptasi sehingga berfungsi secara aman, mengkoordinasikan gerakan dan mengatur jarak. Tebal, sehinggan merepotkan dan membuat mata tampak besar.
Lensa kontak, lebih nyaman tetapi tidak terjadi pembesaran yang berarti. Lensa ini memberikan rehabilitasi visual yang hampir sempurna jika pasien dapat memasmng dan melepaskan serta merawat dengan baik. Kerugiannya adalah meningkatnya resiko keratitis infeksiosa.
Implan lensa intraokuler (IOL), memberi alternatif bagi lensa apakia. Implan IOL menjadi pilihan koreksi optikal karena semakin halusnya teknik bedah mikro dan kemajuan rancang bangun IOL. IOL merupakan lensa permanen plastik yang diimplantasikan kedalam mata. Mampu menghasilkan bayangan dengan bentuk dan ukuran normal.
Kontra indikasi pemasangan IOL antara lain uveitis berulang, retinopati diabetia proliferatif, dan galukoma noevaskular.
Komplikasi yang mungkin terjadi dari pembedahan IOL ini antara lain:
Kerusakan endotel kornea
Sumbatan pupil
Glaukoma
Bleeding
Fistula luka operasi
Edema makula sistosoid
Pelepasan koroid
Uveitis
Endoftalmitis
Dapat diubah kembali posisinya dengan memberikan tetes mata konstriktor, pemposisian kepala, atau pembedahan ulang untuk mereposisi atau mengangkat IOL.
Komplikasi yang umum adalah pembentukan membran skunder akibat proliferasi sisa epitel lensa. Membran ini dapat mengganggu masuknya cahaya dan meningkatkan terjadinya disabilitas silau. Ini terjadi 3-36 bulan setelah pembedahan dan dapat diatasi dengan membuat lubang pada membran dengan jarum atau laser untuk mengembalikan penglihatan.

ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN KATARAK

I. PENGKAJIAN

1.1 Data Dasar Klien
Neurosensori : gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja, merasa di ruang gelap, penglihatan berawan/ kabur, tampak lingkaran cahaya/ pelangi sekitar sinar.
Tanda : tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil
peningkatan air mata
Aktivitas/ istirahat : perubahan aktivitas sehubungan dengan gangguan penglihatan

1.2 Pemeriksaan Diagnostik
Tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan (kartu Snellen) : mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, akueus atau vitreus humor, kesalahan refraksi, atau penyakit sistem saraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik.
Lapang penglihatan : menurun
Pengukuran tonografi : mengkaji tekanan intraokuler (Normal : 12-25 mmHg)
Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, mikroaneurisme. Dilatasi dan pemeriksaan belahan-lampu memastikan diagnosa katarak.
Darah lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukkan anemia sistemik/ infeksi.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan Interpretasi terhadap warna berhubungan dengan nukleus okuler menjadi coklat kekuningan
Resiko Tinggi Infeksi berhubungan dengan prosedur infasiv (pembedahan)

III. PERENCANAAN

3.1 Tujuan
Mempertahankan penglihatan pada tingkat sebaik mungkin
Pasien mengatasi perubahan situasi dengan tindakan positif
Mencegah infeksi pasca bedah katarak

3.2 Kriteria Hasil
Pasien dapat meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu
Pasien mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan
Pasien dapat meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema, demam.
Pasien dapat mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/ menurunkan resiko infeksi.

IV. IMPLEMENTASI
Diagnosa 1: Gangguan sensori_perseptual: penglihatan b.d. nukleus okuler menjadi coklat kekuningan

TINDAKAN/INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat.
Kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif. Bila bilateral, tiap mata dapat berlanjut pada laju yang berbeda, tetapi biasanya hanya satu mata diperbaiki perprosedur
Orientasikan pasien terhadap lingkingan, staf, orang lain di areanya. Memberi peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan, menurunkan cemas dan disorientasi pascaoperasi.
Observasi tanda-tanda dan gejala-gejala disorientasi: partahankan pagar tempat tidur sampai benar-benar sembuh dari anestesia. Terbangun dalam lingkungan yang tidak dikenal dan mengalami keterbatasan penglihatan dapat mengakibatkan bingung pada orang tua. Menurunkan resiko jatuh bila pasien bingung/ tak kenal ukuran tempat tidur.
Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, bicara dan menyentuh sering; dorong orang terdekat tinggal dengan pasien. Memberkan rangsang sensori tepat terhadap isolasi dan menurunkan bingung.
Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata. Gangguan penglihatan/iritasi dapat berakhir 1-2 jam setelah tetesan mata tetapi secara bertahap menurun dengan penggunaan. Catatan: Iritasi lokal harus dilaporkan ke dokter, tetapi jangan hentikan penggunaan obat sementara.
Ingatkan pasien menggunakan kacamata katarak yang tujuannya mmemperbesar kurang lebih 25%, penglihatan perifer hilang dan buta titik mungkin ada. Perubahan ketajaman dan kedalaman persepsi dapat menyebabkan bingung penglihatan/meningkatkan risiko cedera sampai pasien belajar untuk mengkompensasi.
Letakkan barang yang dibutuhkan/ posisi bel pemanggil dalam jangkauan pada sisi yang tak dioperasi. Memungkinkan pasien melihat objek lebih mudah dan memudahkan panggilan untuk penolongan bila diperlukan.

Diagnosa 2: Resti infeksi b. d. proses invasif (pembedahan)

TINDAKAN/INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati mata.
Menurunkan jumlah bakteri pada tangan, mencegah kontaminasi area operasi.
Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam ke luar dengan tisu basah/bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan, dan masukan lensa kontak bila menggunakan. Tenik aseptik manurunkan resiko penyebaran bakteri dan kontaminasi silang.
Tekankan pentingnya tidak menyentuh/ menggaruk mata yang dioperasi. Mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi.
Obsrvasi/diskusikan tanda terjadinya infeksi contoh kemerahan, kelopak bengkak, drainase purulen. Identifikasi tindakan kewaspadaan bila terjadi ISK. Infeksi mata terjadi 2-3 hari setelah prosedur dan memerlukan upaya intervensi. Asana ISK meningkatkan risiko kontaminasi silang.
Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi:
Antibiotik (topikal, parenteral, atau subkonjungtival.)

Steroid

Sediaan topikal digunakan secara profilaksis, dimana terapi lebih agresif diperlukan bila terjadi infeksi. Catatan: Steroid mungkin ditambahkan pada antibiotik topikal bila pasien mengalami implantasi IOL.
Digunakan untuk menurunkan inflamasi.

V. EVALUASI
Merujuk pada tujuan perencanaan


1 Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: